Jumat, 05 Agustus 2016

Kumpulan Cerita Lucu Part #25 ( 241-250 Cerita )


241) Kaktus Arab
Pada acara penutupan pameran bunga seluruh dunia, si pembawa acara bertanya kepada penonton acara apalagi yang perlu digelar berhubung semua acara yang direncanakan telah selesai semua, akhirnya semua setuju supaya wakil setiap negara maju membawa bunga kebangsaan negaranya.

Tetapi seorang wakil dari negara Arab tidak setuju, berhubung dia sendiri yang tidak setuju, acara tetap dilanjutkan.

Pertama-tama naik ke pentas wakil dari Indonesia, dengan bangga dia berkata “Inilah Indonesia dengan Anggreknya”.

Kemudian utusan dari Jepang maju, “Inilah Jepang dengan Sakuranya”.

Utusan dari Belanda maju, “Inilah Belanda dengan Tulipnya”.

Si wakil dari Arab kebingungan karena tidak tahu mau bawa bunga apa. Terakhir pembawa acara memanggil wakil dari Arab, “Saudara-saudara, inilah wakil terakhir dari negara Arab”.

Sang wakil dari Arab maju ke dapan tetapi dia tidak membawa bunga apapun di tangannya, di tengah panggung dia berhenti dan dia ambil mikrophon, sambil mengangkat jubahnya dia berkata “Inilah Arab dengan Kaktus Arab-nya…”


242) Beruang Kutub
Suatu hari di Antartika, seekor beruang kutub sedang duduk di salju dengan
anaknya. Tiba-tiba anak beruang bertanya, “Ayah, apakah saya 100% beruang kutub?”
Ayah beruang itu menjawab, “Tentu saja, Nak. Kamu 100% beruang kutub!”

Beberapa menit kemudian, anak beruang itu kembali bertanya, “Ayah, katakan yang sebenarnya. Saya pasti bisa menerima kenyataan.

Betulkah saya 100% beruang kutub? Bukan beruang madu, bukan beruang coklat dan bukan beruang panda?”

Si Ayah beruang itu menjawab, “Nak, saya 100% beruang kutub, dan ibumu 100% beruang kutub, jadi kamu juga jelas-jelas 100% beruang kutub.”

Setelah beberapa menit berlalu, si anak bertanya lagi, “Ayah, jangan
berpikir kalau Ayah berkata jujur akan membuat saya sedih. Saya tidak
sedih. Saya cuma ingin tahu, apa saya benar-benar 100% beruang kutub?”

Ayah beruang mulai tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan anaknya. Kini dia balik bertanya kepada si anak, “Nak, kenapa kamu terus meragukan kalau kamu memang 100% beruang kutub?”

Si anak beruang menjawab, “Karena saya kedinginan!”


243) Dikejar Babi Hutan
Pada suatu sore, Cak Mat yang pulang dari menggembala sapi, bertemu dengan Cak Udin yang baru pulang dari kebunnya. Cak Mat mengaku kalau dirinya hampir saja menjadi korban babi hutan liar di pinggir sawah.

“Aku hampir mati diseruduk babi hutan, dan untung bisa lolos,” cerita Cak Mat berapi-api.

Udin yang mendengarkan langsung terperangah dan menghentikan perjalanannya, “Dimana bertemu babi hutan, syukur kamu masih bisa lolos.”

Cak Mat pun terlihat semakin bangga melihat temanya itu terkagum-kagum dengan ceritanya yang berhasil meloloskan diri. Bahkan Udin semakin serius mendenggarkannya, sebaliknya Cak Mat semakin membual.

“Siang aku bertemu babi hutan, aku ingin menguji keberanianku. Lantas tak goda dengan mengibas-ngibaskan kaos merahku ini. Babi hutan itu liar mengejarku. Untungnya saat babi hutan itu mengejar aku, dia selalu terpeleset di setiap belokan. Terus ada kesempatan aku naik pohon kelapa,” cerita Cak Mat meyakinkan.

“Hebat kamu sangat berani, kalau itu terjadi padaku pasti aku terkencing-kencing di celana. Kamu hebat Mad!” puji cak Udin.

“Aku juga gitu, ngompol, kamu nggak tahu babi hutan itu terpeleset karena apa?” ungkap Cak Mad sambil melirik celananya yang basah.


244) Tanpa Sadel
Pada suatu hari, ibu-ibu perkumpulan senam di sebuah komplek elit mengadakan acara lomba bersepeda. Lomba diadakan di lapangan sepak bola di sekitar komplek, dengan materi ketahanan naik sepeda mengitari lapangan.

Seorang ibu yang mendapat giliran pertama memulai dengan gayanya sendiri, namun hanya kuat satu putaran saja. Begitu juga ibu yang kedua, dengan gaya masing-masing, namun sudah ngos-ngosan di putaran pertama.

Setelah giliran ibu yang kelima dengan tenangnya dan bergaya berbeda dengan yang lain. Pada putaran kelima pun masih terlihat ceria sambil merem melek.

Bahkan sampai putaran kesepuluh belum juga mau berhenti, jika tidak distop secara paksa oleh ibu yang lain. Jelas ini yang jadi juara.

Ibu yang pertama tanya pada ibu juara tersebut, “Apa sih Bu resepnya kok kuat sampai sepuluh kali?, sambil merem-melek lagi?”

Dengan tenangnya Ibu juara tersebut sambil malu-malu menjawab, “Sepeda saya tanpa sadel”


245) Pengusaha Sukses
Prihatin dengan kekerasan di bekas sekolahnya, Wahyu menghimpun teman-teman seangkatannya di SMA untuk ketemu. “Kita ketemu adik kelas sekalian reuni,” katanya di telepon.

Setelah menasehati para adik kelas, Wahyu dan kawan-kawan pergi ke restoran.

Di tengah acara reuni mereka juga setuju menghimpun dana untuk amal untuk event di sekolah.

Hingga terkumpul dana sebesar Rp4.990.000. Namun satu-satunya alumni yang belum menyumbang adalah Wahyu, yang notabene adalah seorang pengusaha yang terbilang sangat sukses.

Akhirnya dengan gaya berlagak bos, Wahyu pun menulis Rp5.000.000 pada selembar cek dan meletakkannya di tengah meja.

Wahyu kemudian merapikan lembaran-lembaran uang yang terhampar di meja lalu memasukkan uang itu ke kantongnya.


246) Jangan Pake Tangan
Sepasang suami istri selalu mempunyai kebiasaan unik, yaitu selalu menjadikan hal apapun sebagai perlombaan dan persaingan. Namun herannya sampai saat ini semua perlombaan selalu dimenangkan sang istri.

Sampai pada suatu hari sang suami pergi ke dokter dan menjelaskan segalanya, dan tidak lupa meminta saran agar dirinya punya kesempatan memenangkan perlombaan. “Kira-kira perlombaan apa ya dok?” ungkapnya berkonsultasi.

Sementara dokter yang semula merasa tak perlu menjawab, akhirnya tertarik untuk memberi masukan pada pasiennya itu. Setelah beberapa saat berpikir, tidak lama kemudian dirinya menemukan ide cemerlang.

“Saya punya ide bagus, bagaimana kalau istri anda diajak pertandingan buang air seni, siapa yang bisa paling tinggi kencing di tembok dia yang menang. Secara logika wanita kalau kencing pasti jongkok kan, sudah pasti anda yang menang,” ungkap dokter menyarankan.

“Benar ide brilian. Sekarang waktunya saya mengalahkan istri saya,” katanya sambil berpamitan.

Sesampainya di rumah, sang suami segera mengutarakan niatnya tadi, mengajak lomba ‘kencing paling tinggi’. Dengan mantap sang istri pun langsung menerima tantangan tersebut.

Sang istri mendapat kesempatan pertama. Tidak sungkan-sungkan langsung saja menghadap tembok, dan kemudian mengukur bekas air kencingnya. Setelah dihitung secara teliti kencing sang istri mencatatkan 10 centimeter dari tinggi tembok di depannya.

Sang suami pun cengar-cengir merasa kemenangan sudah ada di tangannya. Lalu tibalah gilirannya, tanpa ragu-ragu langsung berdiri di depan tembok yang sama. Kemudian membuka restleting untuk bersiap mengucurkan ‘kencing kemenangan’.

Namun belum sempat air seninya keluar sang istri berteriak dengan cepat dan lantang mengajukan protes, “Eits, tangannya nggak boleh ikut-ikutan dong, kan aku tadi nggak pake tangan”.

Otomatis kencing sang suami pun malah tidak semili pun mengenai tembok di depannya. “Kalah lagi deh,” ungkapnya loyo


247) Gelisah Saat Hujan
Andre sang pengantin pria sejak tadi tampak gelisah walau tetap duduk di pelaminan bersanding dengan Irin sang mempelai wanita.

Irin mempelai wanita akhirnya bertanya kepada Andre sang mempelai pria.

Irin: “Kenapa sih kau gelisah terus, Mas? Nggak sabar menunggu tamu pulang, ya?”

Andre: “Bukan soal itu! Lihat, hujan turun dengan deras tuh!”

Irin: “Kan justru asik malam pertama kita di sambut dengan hujan deras. Pasti akan lebih romantis, bukan?”

Andre: “Iya. Tapi lama kelamaan bisa banjir masuk ke dalam rumah, sehingga malam pertama kita bisa gagal total.”


248) Menempel Di Kaca
Seorang suami yang baru saja bertemu kawan lamanya rupanya terlalu banyak minum. Agar tidak mengganggu istrinya, mengendap-endap hendak masuk ke kamarnya yang terletak di lantai dua.

Dalam perjalanannya, di tangga dirinya terjatuh dan menimpa vas bunga di bawah tangga. Namanya orang mabuk pastinya tidak merasakan sakit sedikit pun.

Ia baru tersadar akan pantatnya yang berdarah ketika akan berganti baju di depan kaca. Kemudian diambilnya perban dan dibalutnya baru kemudian tidur.

Pagi harinya, si Istri menegurnya, “Sayang, kamu pasti mabuk deh pulang semalam.”

Sang suami berusaha membantah, “Ah enggak kok, suwer.”

“Kamu luka khan?” tanya sang istri kembali.

“Enggak juga kok, lagian dari mana kamu tahu?” jawabnya berusaha membantah.

“Sudah sini biar aku plester, lagian obat merah dan perban yang itu salah. Kamu tempelkan, semuanya menempel di kaca.”


249) Keadaan Darurat
Berkat bantuan seorang saudara, Siswati akhirnya diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Dia mendapatkan ruang kerja di lantai satu, sementara sang bos berada di ruang VIP di lantai 25.

Suatu saat Siswati mendapat telepon untuk mengantarkan berkas penting ke ruangan sang bos. Dengan suara tergesa-gesa sang bos pun meminta dengan sangat Siswati untuk segera mengantarkan berkas penting tersebut.

Bos mengingatkan Siswati, ini adalah masalah darurat karena itu dia harus sampai di lantai 25 secepat mungkin.

Sang Bos menunggu dan menunggu, tapi Siswati baru muncul 30 menit kemudian, dengan pakaian yang basah kuyup oleh keringat dan nafas tinggal satu-satu karena ngos-ngosan.

Dengan suara menggelegar si bos meminta penjelasan atas keterlambatan ini dan kenapa Siswati kelihatan seperti diguyur air.

“Begini Pak,” sahut Siswati dengan suara terputus-putus, “Sewaktu saya mau naik lift di sana saya membaca, ‘DALAM KEADAAN DARURAT HARAP GUNAKAN TANGGA”


250) Surat Buat Ayah
seorang ayah mendapati kamarnya sudah rapi, dengan selembar amplop di atas kasur bertuliskan ‘Untuk ayah’. Perlahan amplop itu mulai dibuka
Ayah tercinta,

Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal. Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekasihku, dia cowok yang baik.

Ayah juga pasti akan setuju meski dengan tatto-tato dan piercing yang melekat di tubuhnya, juga dengan motor buntutnya serta rambut gondrongnya.

Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua, aku pikir jaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua. Dia sangat baik terhadapku, lebih lagi dia ayah dari anak di kandunganku saat ini.

Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan membesarkan bersama.

Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan extacy yang sangat luas, dia juga telah meyakinkanku bahwa marijuana itu tidak begitu buruk. Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami. Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh.

Aku tahu dia juga punya cewek lain, tapi aku percaya dia akan setia padaku dengan cara yang berbeda.

Ayah.. jangan khawatirkan keadaanku. Aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku. Salam sayang untuk kalian semua. Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya.

Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, sang ayah membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya itu..

Ayah, .. tidak ada satupun dari yang aku tulis di atas itu benar, aku hanya ingin menunjukkan ada ribuan hal yang lebih mengerikan dari pada nilai rapotku yang buruk.

Kalau ayah sudah menandatangani rapotku di atas meja, panggil aku ya, Aku tidak ke mana-mana, saat ini aku ada di tetangga sebelah.

CrownQQ | Agen Domino QQ | BandarQ | Domino99 Online Terbesar

BACA JUGA :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar