Saya hendak turun dari bus ini. Saya takut. Walaupun saya sudah membeli tiketnya dan sudah memberinya pada bapak-bapak yang disana, tapi melihat perempuan di sebelah saya, pikiran saya jadi nggak tenang. Wajahnya seperti jahat, pembunuh kejam, atau sejenis ibu tiri dalam dongeng. Abang-abang di sebelah saya sepertinya nggak bisa membantu, dari awal saya duduk di bangku nomor 14 ini, dia nya nggak pernah saya lihat membuka mata. Tidur. Selalu tidur. Dia nya nggak tahu saya sudah jantungan dari tadi melihat kehadiran perempuan di sebelah saya. Alisnya tebal, matanya bercelak, gigi taringnya juga sangat menakutkan. Saat saya menengok dia, dia nya juga menengok saya dan tersenyum. Senyuman iblis, saya rasa.
Tanpa saya sengaja, keringat dingin saya keluar. Tangan saya juga gemeter dan basah. Ini sudah larut malam, bus masih melaju kencang, dan saya nggak bisa tidur. Pikiran saya selalu tertuju pada perempuan itu. Dia nya duduk bersama anaknya. Anaknya masih kecil, masih bisa dipangku, tapi dia nya kok malah membelikan tiket juga untuk anaknya yang masih bisa dipangku itu. Tapi anaknya diem aja gitu loh. Kayak nggak bernyawa gitu. Itu menambah ketakutan saya jadinya.
“Mas, mas, eneng mancis?”
Laki-laki di belakang menepuk lengan saya.
“Ora eneng toh, mas. Saya nya nggak ngerok*k…” Jawab saya.
“Udu’ ngono, mas. Anu, awak are’ mbakar iki, kelabang…”
Saya mendelik kaget. Kok bisa ada kelabang di bus? Aneh. Eh, iya. Memang aneh. Di bawah bangku saya tiba-tiba banyak kecoa.
“Banyak kecoanya ya, mas?”
Perempuan di sebelah saya mulai ngomong. Saya menoleh perlahan. Matanya setajam keris. Lagi-lagi senyumnya itu, seperti ingin merobek-robek mental kelaki-lakian saya. Saya pun mengangguk tanpa berani menjawabnya. Barangkali dia nya juga mendapati saya sedang keringat dingin dan gemetar hebat.
“Mau kemana, mas?” Tanyanya singkat.
“Ng…anu, Medan…”
“Tempat siapa?”
“Ng…, keluarga saya…”
Dia nya tersenyum. Senyuman mengejek. Bisa jadi menahan tawa. Saya nggak ngerti, apa maksudnya. Selepas itu dia menghadap ke depan, melihat jalan. Gelap, kiri kanan penuh pepohonan rambung. Saya coba cek hp, jam dua malam. Saya ingin tidur lantaran nggak bisa turun dari bus ini. Bus hantu, saya pikir. Tapi entah kenapa, kok saya nggak ngantuk-ngantuk. Sudah dari tadi coba memejamkan mata, tapi percuma. Saya ingin melek terus. Sama seperti perempuan di sebelah saya.
“Nama mas siapa?”
“Ha?” Saya kaget.
“Nama loh, mas…”
“Agus…”
“Oh, kalau aku Meli…”
Saya senyum saja, walaupun sebenarnya saya nggak nanya nama dia nya sama sekali. Saya coba perhatikan dia lebih saksama, hitam di sekeliling matanya semakin tebal. Wajahnya juga tambah putih. Saya coba cek AC di atas kepala saya. Nggak hidup, tapi dinginnya bukan main. Saya coba cek lagi, yaitu para penumpang lain. Ya Gusti! Hilang. Tinggal saya, si Meli dan anaknya, dan juga pemuda yang sebangku saya, masih juga tidur.
“Mas Agus kenapa?”
“Nggak apa…” Jawab saya pada Meli sembari beringsut.
“Itu loh, mas, yang lain itu sudah pada turun. Mereka jurusan Tebing Tinggi semua,”
Aneh betul. Sembilan puluh persen lebih turun, dan saya nggak merasakan kalau bus ini ada berhenti.
“dan aku kebetulan sama seperti Mas Agus. Medan.” Tukasnya dengan nada lembut dan lagi-lagi senyuman yang mengejek begitu.
Saya menelan ludah banyak-banyak. Saya takut betul. Sampai-sampai saya ingin pipis. Dan saya juga baru ingat, ini bus tanpa toilet. Terpaksa saya harus lapor ke pak supirnya untuk berhenti di SPBU terdekat.
“Bang, ng…berhenti di SPBU ya…” Tegur saya dari belakang sembari menepuk pundaknya.
Dia nya mengangguk pelan. Saya berbalik badan dan si kenek memelototi saya. Tatapannya nggak kalah seram dari tatapan si Meli. Seperti tatapan ingin menghabisi saya. Saya pun hanya bisa tersenyum paksa padanya. Dia nya kaku, tegak dan kelihatan dingin. Saya buru-buru melangkah kembali ke peraduan saya semula.
Tanpa saya sadari sebelumnya, ternyata bus ini dipenuhi jaring laba-laba. Banyak tikus-tikus gemuk berdecit-decit dan berlarian. Besi-besi di sekitar jendela juga sudah berkarat. Ya ampun, kepala saya jadi pusing. Entah kenapa, bus ini seperti bus rongsokan. Tak ada sesiapapun dapat menjelaskan semua ini pada saya. Saya mulai lunglai.
“Mas Agus?”
Saya tak menyahut panggilan Meli. Masih dapat saya lihat dia nya beranjak dan merangkul saya yang hampir tumbang. Dan pada akhirnya semua gelap. Hitam.
Saya mulai sadar. Saya kaget, saya sedang dalam posisi telentang di atas kursi bus ini. Kosong. Tak ada sesiapa lagi di bus ini. Saya mulai panik. Saya pun bergegas keluar dari bus ini. Dan alangkah bahagianya hati saya setelah tahu saya sudah berada di SPBU. Saya selamat. Saya tak akan pergi dengan bus hantu itu lagi. Saya akan mencari transportasi yang lebih “manusia”. Tanpa pikir panjang, saya segera masuk ke toilet umum.
“Mas, mas, tadi nggak lihat pintu wc ini menutup sendiri?”
“Nggak tahu, tuh. Apa iya?”
“Iya loh, mas. Jadi takut aku.”
Saya mendengar beberapa dialog di luar. Saya nggak tahu pintu kamar mandi mana yang mereka bahas. Apa jangan-jangan si supir atau si kenek tadi mengikuti saya? Ah, semoga nggak. Saya harus meminta perlindungan dari gusti Allah.
Lega rasanya selepas pipis. Saya harus cepat mencari bus lain agar bisa sampai di Medan lebih awal. Saya rindu berat dengan istri dan anak saya yang baru berusia dua tahun delapan bulan. Saya sudah nggak mau lagi kerja di Dumai, tak sebanding dengan apa yang saya keluarkan dan jauh dari keluarga. Semoga anak saya nanti tidak bernasib sama seperti ayahnya ini.
“Tuh kan, mas! Pintunya terbuka sendiri!”
“Iya juga. Seperti ada hantu yang pipis tadi…”
Dua orang pria tadi ternyata membahas pintu wc yang saya tempati tadi. Saya jadi bingung betul. Kan ada saya yang disitu tadi. Aneh.
“Ng…anu, mas. Itu kan tempat saya pipis tadi…”
Dua pria tadi tak menghiraukan saya. Mereka malah keluar seperti berusaha memberitahu yang lain perihal pintu tadi. Saya kok jadi curiga sama diri sendiri. Atau jangan-jangan…
“Aaaaaaaaa!!!”
Nggak. Ini nggak mungkin. Saya pasti lagi masuk perangkap acara tv yang suka ngusilin orang itu. Nggak mungkin saya bercermin dan melihat wajah hantu. Wajah yang pucat, mata yang hitam lebam, dengan darah lengket di sekitar ujung bibir saya. Ini pasti ulah acara tv itu.
“Hoi!”
Tiba-tiba pundak saya ditepuk seseorang.
“Ngapain pula kau disini?”
“Bang kenek?”
“Sudah cepatlah kau naik. Kita sudah mau berangkat!”
Saya menelan ludah sejenak. Ternyata mereka masih ada disini. Rencana saya melarikan diri dari hantu-hantu ini gatot, gagal total.
“Bang!” Panggil saya saat ia sedang melangkah naik ke dalam bus.
“Apa lagi? Tak senang kau?”
“Ng…anu, abang dan yang lain hantu ya?”
Seketika bang kenek terkekeh-kekeh. Saya jadi tambah bingung lagi. Apakah pertanyaan saya lucu? Atau memang sayanya yang lucu?
“Emang si lain lah kau! Sudah jelas-jelas ini ALG, antar lintas gaib, kau tanya pula lagi!”
“Antar lintas apa!?”
Saya tersentak mendengar jawaban bang kenek. Berarti mereka benar-benar hantu! Saya langsung ambil langkah seribu meninggalkan bus. Biar terbirit-birit, yang penting saya bisa kabur dari sini.
“Hoi!”
Bang kenek itu memanggil saya lagi. Tak saya hiraukan.
“Mau kau kemanakan anak istrimu ini, ha!?”
Saya berhenti dan tertegun. Siapa anak dan istri saya? Apakah yang dimaksud bang kenek itu adalah si Meli dan anaknya? Tidak. Tidak mungkin mereka adalah keluarga saya. Apa maksudnya semua ini? Apakah saya benar-benar hantu juga sama seperti mereka? Saya sungguh tak menduga semua ini. Pada mulanya saya menunggu di suatu halte dekat kantor saya bekerja untuk mendapatkan sebuah bus jurusan Medan. Sudah hampir dua jam menunggu, tak kunjung saya dapatkan. Saya frustrasi. Namun pada akhirnya datanglah bus ini, bus yang tak saya lihat namanya pada saat ingin menaikinya. Dan ternyata…
“Mas Agus?”
Meli memanggil saya dari jendela bus. Saya menoleh ke atas dengan perlahan.
“Sudah sadar belum? Rio nangis nih, mas. Sepertinya mencari kamu, mas…”
Saya mencoba menelan ludah banyak-banyak. Apa barangkali saya sudah mati makanya saya melihat wajah saya penuh luka dan mempunyai keluarga hantu? Saya bergeming sesaat, kala melihat bus hantu itu tiba-tiba meledak.
DEG!
Saya tersentak dan bergegas duduk. Ternyata saya telah bermimpi. Saya tidur. Semua keanehan sebelumnya telah terjawab sudah. Hati saya lega, tak keraguan lagi. Keringat dingin saya pun mulai menguap karena tubuh saya mulai hangat dan tanpa baju. Saya memang suka tidur tanpa mengenakan pakaian tapi…
“Sudah berhasil anda identifikasi, dok?”
“Sudah, pak. Ini hasil autopsi kami…”
Saya mendengarkan beberapa dialog di luar. Otopsi? Apa maksud mereka? Saya jadi bingung. Terlebih lagi saat saya lihat selimut yang saya kenakan bukan terbuat dari kain, melainkan dari plastik! Dan sekitar saya ternyata, banyak ranjang dengan selimut plastik yang sama!
Keringat dingin yang sedari tadi telah menguap kini mengembun lagi. Pelan-pelan saya amati sekeliling saya dengan saksama. Gemetar seluruh bagian tubuh saya. Karena masih belum percaya atas apa yang ada di sekeliling saya, saya pun turun dan mencoba menyibakkan selimut-selimut plastik itu. Saya merasa sehat dan bugar. Tubuh saya tak ada luka sedikit pun, masih mulus.
Setelah berjalan beberapa langkah dengan tubuh bugil, saya menyibakkan selimut plastik di ranjang satu ini. Dan ba! Ternyata ini si kenek yang ada di bus tadi. Tubuhnya hangus, menghitam legam. Matanya mendelik. Saya coba menyibakkan selimut yang satunya lagi dan ba! Meli. Ya, Meli dan bayinya terbaring bersebelahan. Mereka sama, hangus. Jantung saya berdegup kencang mengetahui semua ini. Ada sekitar dua puluhan mayat. Mereka semua adalah penumpang di bus hantu yang ada di dalam mimpi saya. Pantas, memang pantas mereka menghantui saya dalam mimpi. Tapi anehnya, kenapa saya tidak…
“Lalu bagaimana dengan korban yang fisiknya masih bagus seperti tak terbakar itu, dok?”
“Maafkan kami, Inspektur. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami tak dapat menyimpulkan apapun. Padahal istrinya yang bernama Meli itu sudah hitam legam, hangus terbakar…”
Saya benar-benar mendengarkan percakapan antara seorang inspektur dan dokter tersebut.
“Mungkin itu suatu kelebihan manusia baik yang diberikan oleh Tuhan. Tapi ia sudah mati, kan, dok?”
Mereka terdiam seketika dan menoleh gemetar ke arah saya yang sedang membuka pintu ruang autopsi dengan perlahan.
“Seharusnya anda tadi membunuh saya, dok.” Pinta saya dengan suara parau.
![]() |
| CrownQQ | Agen Domino QQ | BandarQ | Domino99 Online Terbesar |
BACA JUGA :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar