101) Kriteria Istri Idaman
Kriteria isteri idaman adalah:
1. Seorang isteri yang cantik, pandai bersolek, memasak dan mengurus rumah adalah hal yang penting.
2. Seorang isteri yang periang, bertenaga, dapat membuat kita tertawa dan menghibur dikala duka juga penting.
3. Seorang isteri yang memahami, soleh, jujur, taat beribadah dan dapat dipercaya sangat penting.
4. Seorang isteri yang dapat memahami dan memuaskan anda secara lahir batin dan di tempat tidur juga sangatlah penting.
5. Tapi yang paling penting adalah ke empat-empat istri tersebut di atas tidak saling mengenal satu sama lain...
102) Arti Warna Surat Cinta
Yuni : Mengapa kau menulis surat dengan kertas berwarna Hijau Muda?
Dena :Surat warna Hijau Muda itu artinya 'Aku Cinta Padamu'.
Yuni : Kalau kertas itu memakai kertas Biru Muda artinya apa?
Dena :Melambangkan Suasana Pilu
Yuni : Kalau kertasnya berwarna Merah?
Dena: Asmara Yang Membara.
Yuni : Kalau kertasnya warna Putih?
Dena: Suci, Bersih, Jujur, Terbuka Tidak Di Tutup-tutupi.
Yuni : Kalau kertasnya Kuning?
Dena: Melambangkan Hati Yang Gersang.
Yuni : Kalau Merah Jambu?
Dena: Sedang Jatuh Cinta.
Yuni : Kalau Abu-abu?
Dena :Melambangkan Hati Yang Sedang Sendu.
Yuni : Kalau kertasnya Hitam?
Dena: Itu namanya kertas karbon, dasar Bego!!!
wkwkk.... :D :D
103) Ayah Saya Lebih Hebat
Suatu ketika ada Dua anak sedang berdebat tentang kehebatan ayah mereka masing-masing.
Anak A : " Ayahku lebih hebat daripada ayahmu !"
Anak B : "Oke. Tapi ibuku lebih hebat daripada ibumu !"
Anak A terdiam sejenak. Lalu menjawab, "Kamu benar. Ayah saya juga mengatakan demikian".
104) Berita Lucu Kehilangan Anak
Berita Lucu kehilangan anak
Berita Kehilangan!
Telah hilang seorang anak, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Nama : Satriyo
Alamat : Yogyakarta
Usia : 7 tahun
Hilang hari minggu jam 13.00 WIB, memakai baju partai, celana pendek, kulit putih, rambut cepak dan pakai sendal jepit yang kegedean.
Bagi yang menemukan ciri-ciri diatas harap menghubungi ibunya karena sendalnya mau dipakai...
105) Enstein vs Abu Nawas
Einstein dan Abu Nawas duduk berdampingan dalam sebuah penerbangan.
Einstein mengajak memainkan sebuah permainan tebak-tebakan.
Einstein: Aku akan mengajukan satu pertanyaan, jika Anda tidak tahu jawabannya maka Anda membayar saya hanya $ 5, dan jika saya tidak tahu jawabannya, saya akan membayar Anda $ 500.
Einstein mengajukan pertanyaan pertama:
Berapa jarak dari Bumi ke Bulan ?
Abu Nawas tidak mengucapkan sepatah kata pun, merogoh saku, mengeluarkan $ 5.
Sekarang, giliran Abu Nawas...
Dia bertanya kepada Einstein: Apakah yang naik ke atas bukit dengan 3 kaki, dan akan turun dengan 4 kaki ?
Einstein melakukan pencarian internet, dan meminta semua teman-temannya yang cerdas.
Setelah satu jam mencari jawaban...akhirnya ia memberikan Abu Nawas $ 500.
Einstein sambil penasaran bertanya: Nah, jadi apa yang naik ke atas bukit dengan tiga kaki dan turun dengan empat kaki ?
Abu Nawas tidak bersuara, dia merogoh saku, dan memberikan Einstein $ 5
106) Abu Nawas dan Majikannya
Abu Nawas pernah bekerja pada seorang yang sangat kaya, tetapi seperti biasanya ia mendapatkan kesulitan dalam pekerjaannya. Pada suatu hari orang kaya itu memanggilnya, katanya, “Abu Nawas kemarilah kau. Kau ini baik, tetapi lamban sekali. Kau ini tidak pernah mengerjakan satu pekerjaan selesai sekaligus. Kalau kau kusuruh beli tiga butir telur, kau tidak membelinya sekaligus. Kau pergi ke warung, kemudian kembali membawa satu telur, kemudian pergi lagi, balik lagi membawa satu telur lagi, dan seterusnya, sehingga untuk beli tiga telur kamu pergi tiga kali ke warung.”
Abu Nawas menjawab, “Maaf, Tuan, saya memang salah. Saya tidak akan mengerjakan hal serupa itu sekali lagi. Saya akan mengerjakan sekaligus saja nanti supaya cepat beres.”
Beberapa waktu kemudian majikan Abu Nawas itu jatuh sakit dan ia pun menyuruh Abu Nawas pergi memanggil dokter.Tak lama kemudian Abu Nawas pun kembali, ternyata ia tidak hanya membawa dokter, tetapi juga bebarapa orang lain.
Ia masuk ke kamar orang kaya itu yang sedang berbaring di ranjang, katanya, “Dokter sudah datang, Tuan, dan yang lain-lain sudah datang juga.” “Yang lain-lain? Tanya orang kaya itu. “Aku tadi hanya minta kamu memanggil dokter, yang lain-lain itu siapa?”
“Begini Tuan!” jawab Abu Nawas, “Dokter biasanya menyuruh kita minum obat. Jadi saya membawa tukang obat sekalian. Dan tukang obat itu tentunya membuat obatnya dari bahan yang bermacam-macam dan saya juga membawa orang yang berjualan bahan obat-obat-an bermacam-macam. Saya juga membawa penjual arang, karena biasanya obat itu direbus dahulu, jadi kita memerlukan tukang arang. Dan mungkin juga Tuan tidak sembuh dan malah mati. Jadi saya bawa sekalian tukang gali kuburan.”
107) Abu Nawas Jaga Pintu
Suatu hari Abu Nawas kecil ditinggal ibunya untuk pergi ke rumah Ibu RT. Sebelum pergi ibunya berkata kepada Abu Nawas, “Abu Nawas, kalau kamu sedang sendirian di rumah, kamu harus selalu mengawasi pintu rumah dengan penuh kewaspadaan. Jangan biarkan seorang pun yang tidak kamu kenal masuk ke dalam rumah karena bisa saja mereka itu ternyata pencuri!”
Abu Nawas memutuskan untuk duduk di samping pintu. Satu jam kemudian pamannya datang. “Mana ibumu?” tanya pamannya.
“Oh, Ibu sedang pergi ke pasar,” jawab Abu Nawas.
“Keluargaku akan datang ke sini sore ini. Pergi dan katakan kepada Ibumu jangan pergi ke mana-mana sore ini!” kata pamannya.
Begitu pamannya pergi Abu Nawas mulai berpikir, ‘Ibu menyuruh aku untuk mengawasi pintu. Sedangkan Paman menyuruhku pergi untuk mencari Ibu dan bilang kepada Ibu kalau keluarga Paman akan datang sore ini.”
Setelah bingung memikirkan jalan keluarnya, Abu Nawas akhirnya membuat satu keputusan. Dia melepaskan pintu dari engselnya, menggotongnya sambil pergi mencari ibunya.
108) Kecerdikan Abu Nawas
Pada suatu hari ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Sampailah mereka pada suatu hari di desa Abu Nawas. Orang-orang desa ini menyodorkan Abu Nawas sebagai wakil orang-orang yang bijak di desa tersebut. Abu Nawas dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang-orang desa menonton mereka bicara.
Orang bijak pertama bertanya kepada Abu Nawas, “Di mana sebenarnya pusat bumi ini?”
Abu Nawas menjawab, “Tepat di bawah telapak kaki saya, saudara.”
“Bagaimana bisa saudara buktikan hal itu?” tanya orang bijak pertama tadi.
“Kalau tidak percaya,” jawab Abu Nawas, “Ukur saja sendiri.”
Orang bijak yang pertama diam tak bisa menjawab.
Tiba giliran orang bijak kedua mengajukan pertanyaan. “Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit?”
Abu Nawas menjawab, “Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini.”
“Bagaimana saudara bisa membuktikan hal itu?”
Abu Nawas menjawab, “Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai itu, dan nanti saudara akan tahu kebenarannya.”
“Itu sih bicara goblok-goblokan,” tanya orang bijak kedua, “Bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai.”
Abu Nawas pun menjawab, “Nah, kalau saya goblok, kenapa Anda juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?”
Mendengar jawaban itu, si bijak kedua itu pun tidak bisa melanjutkan.
Sekarang tampillah orang bijak ketiga yang katanya paling bijak di antara mereka. Ia agak terganggu oleh kecerdikan Abu Nawas dan dengan ketus bertanya, “Tampaknya saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada pada ekor keledai itu.” “Saya tahu jumlahnya,” jawab Abu Nawas, “Jumlah bulu yang ada pada ekor kelesai saya ini sama dengan jumlah rambut di janggut Saudara.”
“Bagaimana Anda bisa membuktikan hal itu?” tanyanya lagi. “Oh, kalau yang itu sih mudah. Begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut saudara. Nah, kalau sama, maka apa yang saya katakan itu benar, tetapi kalau tidak, saya keliru.”
Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung seperti itu. Dan orang-orang desa yang mengelilingi mereka itu semakin yakin Abu Nawas adalah yang paling bijak di antara keempat orang tersebut.
109) Abu Nawas Mencuri Gandum
Abu Nawas kedapatan sedang menuang gandum milik tetangganya ke dalam karung gandumnya di toko koperasi. Akhirnya ia dibawa ke pengadilan.
“Saya memang bodoh. Saya tidak bisa membedakan antara gandum mereka dengan gandum saya,” katanya. “Kalau begitu kenapa tidak kau tuangkan saja gandummu ke kantong orang lain?” tanya hakim.
“Tapi saya bisa membedakan yang mana gandum saya di antara milik orang lain. Saya kan tidak sebodoh itu!”
110) Saudara Kembar
Tono mempunyai sebuah perahu dayung yang sudah sangat tua. Kok kebetulan suatu hari istrinya si Tino itu meninggal bersamaan dengan hari tenggelamnya perahu dayung si Tono itu. Beberapa hari kemudian seorang wanita tua melihat Tono, dan secara tidak sengaja salah mengenalinya sebagai Tino yang kehilangan istrinya itu. Kata wanita itu kepada Tono,
"Saya turut sedih atas kehilangan anda. Anda pasti merasa sedih."
Nah si Tono mengira bahwa wanita itu berbicara tentang perahu dayungnya itu, menjawab:
"Sebenarnya sih saya bisa dibilang malah senang karena bisa menyingkirkannya. Dia sudah amat tua sekali bahkan sudah jelek dari pertama kalinya. Bagian bawahnya sudah lapuk dan berbau amis sekali. Bagian punggungnyapun sudah sangat jelek dan lubang di bagian depannya sudah sangat lebar. Setiap kali aku menggunakannya, lubangnya bertambah besar dan dia bocor tidak karuan. Saya kira yang mengakhirinya adalah ketika saya menyewakan dia kepada 4 orang pemuda yang sedang bersenang-senang tempo hari. Saya sudah memperingatkan mereka bahwa dia sudah tidak begitu enak dipakai tapi mereka masih juga mau menggunakannya. Mereka berempat mencoba masuk ke dalam bersamaan dan akhirnya dia terbelah persis di tengah- tengah."
Wanita tua itupun pingsan.
![]() |
| CrownQQ | Agen Domino QQ | BandarQ | Domino99 Online Terbesar |
BACA JUGA :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar