121) Awas Anjing Galak
Seorang pelanggan toko obat melihat tanda bertuliskan “Bahaya! Ada anjing!”.
Tapi ia tidak menemukan seekor anjing yang terlatih melainkan seekor anjing tua yang sama sekali tidak berbahaya sedang tidur di lantai disamping kasir.
Pria itu bertanya pada pemilik toko obat : “Apakah ini anjing yang harus dihindari itu?!”
“Benar pak, memang anjing itu yang harus dihindari,” sahut pemilik toko obat. Karena merasa geli, si pelangan tertawa terbahak-bahak.
“Menurut saya anjing itu tidak berbahaya sama sekali. Lalu kenapa anda memasang tanda tersebut?”
“Karena sampai saya memasang tanda itu, semua orang selalu tersandung oleh anjing itu.”
122) Surat Dalam Batu Bata
Irwan sedang duduk di ruang tengah pada suatu sore ketika tiba-tiba sebuah batu bata melayang melalui jendela dan jatuh di dekat kakinya.
Pada batu bata tersebut ada sebuah kertas dengan pesan : “Kamu harus membayar Rp. 10 juta atau saya akan menyandera istrimu.”
Setelah berpikir sesaat, Irwan membalas pesan tersebut :
“Siapa pun anda, surat anda hari ini sudah saya terima. Saya tidak punya Rp. 10 juta saat ini. Tapi tetaplah menghubungi saya, karena saya tertarik dengan usul anda. Irwan.”
123) Perbedaan Waktu
Gayus lagi jalan-jalan di New York, Amerika Serikat ikut dengan pamannya yang bekerja di negara tersebut.
Kemudian Gayus ingin mengetahui perbedaan waktu antara New York dengan Jakarta. Dengan bahasa Inggris seadanya, Gayus menghubungi operator dan bertanya perbedaan waktu.
“Time difference New York and Jakarta, please.” tanya Gayus kepada operator di Amerika
“One minute, please..”
Gayus langsung menutup telepon tersebut sambil mengomel.
“Sialan, Jakarta New York ternyata cuma beda satu menit doang…”
124) Ingin Jadi WNI
Seorang warga Cina berniat mengubah status kewarganegaraannya menjadi WNI.
Berikut ini adalah petikan tanya jawab antara si petugas dengannya :
“Selamat pagi, Pak.”
“Celamat pagi,” balasnya.
“Bapak akan menjalani pengujian akan wawasan kebangsaan. Jangan takut, pertanyaannya gampang, kok,” hibur si petugas melihat mimik si engkoh yang mengerutkan alis.
“Saya akan mulai dengan sejarah”. Dia mengambil gambar RA Kartini, lalu bertanya: “Ini gambar siapa?”
Dengan lantang dan suara keras, dia berkata :
“Haa…yaa… . itu kan Ny. Menil. Bagus lo…. Owe celing minum.”
Berikutnya si petugas mengetes wawasan tentang kepemerintahan dengan memperlihatkan foto lambang Korpri. “Ini apa, Pak?” tanyanya sambil masih mengelum senyum.
“Haa.. yaa…. olang pake itu seling datang ke toko Owe minta-minta sumbangan.”
Lalu, si petugas menunjuk pd foto Pak Harto yang menempel di dinding sambil bertanya : “Foto siapa itu?”
“Haa….yaa… itu kan hopengnya Liem. Pintel dagang dia. Anak-anaknya juga.”
Mendengar jawaban itu, si petugas menjadi sakit kepala. “Ini pengetesan terakhir, Pak. Coba nyanyikan lagu Indonesia Raya”
Si Engkoh langsung berdiri tegap dan bernyanyi: “Indonecia tanah ailmuu…”
“Stop… stop… !!! Kenapa tanah airmu, Pak?” tanya si petugas.
“Tanda tangan dulu, balu Ngai bilang tanah ailku….”!
125) Warisan Perkebunan
Seorang kakek sedang berbicara serius dengan cucunya yang bernama Maya di bawah pohon kedondong.
Kakek : “Maya, kakek sudah tidak kuat lagi, kakek mohon kamu teruskan perkebunan kakek…”
Maya : “Jangan bicara begitu, Kek…” (dalam hati, asyik dapat warisan).
Kakek : “Segala isi perkebunan, ternak, villa, traktor untuk kamu. Tolong rawat baik-baik, jangan lupa disiram setiap hari tanaman kakek.”
Maya : “Baik kek, tenang saja.. Tapi dimana perkebunan kakek? Maya kok tidak pernah tahu?”
Kakek : “Di Facebook kakek, FARMVILLE, nanti kakek kasih tahu passwordnya.”
Maya : “?????”
126) Melindas Sepeda Motor
Suatu hari seorang sopir truk berhenti di sebuah restoran untuk makan siang.
Ketika ia mendapat pesanan, segerombolan geng bersepeda motor datang dan mulai mengolok-olok sopir truk itu.
Sopir truk tidak melakukan apa-apa. Dia bangun membayar untuk makan dan pergi.
Salah satu pengendara sepeda motor pergi ke kasir dan mengatakan “dia bukan laki-laki.”
“Tidak” kata kasir, “bukan sekedar sopir biasa, ia tadi keluar dan telah melindas dua belas sepeda motor kalian.”
127) Ongkoh Goh Rogoh
Ada seorang pria paruh baya memasuki pasar ingin menikmati rujak cingur yang penjualnya seorang ibu yang lumayan montok dan sepertinya berasal dari madura.
Kemudian setelah bapak itu sampai di depan penjual rujak cingur itu, bertanya mengenai harga satu porsinya.
“Buk, rujak satu porsi berapa?” tanya bapak itu.
“Sepuluh ribu”, kata ibu penjual rujak.
“Rujaknya dibungkus buk!” pinta bapaknya.
Setelah selesai rujak cingurnya dibungkus, bapak itu membayar dengan uang Rp. 50 ribu.
Tak lama kemudian ibu penjual rujak itu mengatakan sesuatu kepada bapak itu.
“Wah.. pak tangan saya lagi belepotan cabe dan petis nih. Uang kembaliannya ambil disini.” kata ibu penjual rujak itu sambil menunjuk di belahan dada atas..
Tanpa ragu si bapak merogoh karena orang madura memang biasa menaruh segala macem disana pikirnya..
“Nggak ada” kata bapak
“Lebih dalam lagi, terus, teruuss… ke kanaaannn, kekiriiii…” kata ibu itu memberikan panduan.
” Nggak ada…”, kata bapak itu dengan yakin.
“Ya sudah…” kata ibu penjual rujak.
“Lha terus mana kembalian saya”, tanya si bapak
“Ongkos goh rogoh tadi empat poloh rebu ta’ iyeee ..!!”, kata si penjual rujak
128) Wawancara Saat melamar Pekerjaan
Sarjo melamar pekerjaan sebagai penjaga lintasan kereta api. Dia diantar menghadap Pak Banu, kepala bagian, untuk wawancara.
“Seandainya ada dua kereta api berpapasan pada jalur yang sama, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Pak Banu, ingin mengetahui seberapa cekatan Sarjo.
“Saya akan pindahkan salah satu kereta ke jalur yang lain,” jawab Sarjo dengan yakin.
“Kalau handle untuk mengalihkan rel-nya rusak, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Pak Banu lagi.
“Saya akan turun ke rel dan membelokkan relnya secara manual.”
“Kalau macet atau alatnya rusak bagaimana?”
“Saya akan balik ke pos dan menelpon stasiun terdekat.”
“Kalau telponnya lagi dipakai?”
“Saya akan lari ke telpon umum terdekat?”
“Kalau rusak?”
“Saya akan pulang menjemput kakek saya.”
“LHO Kenapa?”, tanya Pak Banu heran dengan jawaban Sarjo.
“Karena seumur hidupnya yang sudah 73 tahun, kakek saya belum pernah melihat kereta api tabrakan.”
129) SPG Dan CP
Disebuah pameran komputer, terjadi percakapan antara SPG komputer dan calon pembeli CP
CP : “Mbak, mau nanya dong? ‘ENTER’ itu maksudnya apa?”
SPG dengan sigap menjawab: “Kayaknya untuk mempercepat program deh Mas!”
CP : “Mempercepat gimana maksudnya mbak?”
SPG : “Ya biar cepet kerjanya Mas. kalo tulisan nya ENTAR, khan jadinya lamaaa!!”
CP: “Oww, tanya lagi ya Mbak, ini saya sudah masuk ke Internet Explorer. Kok saya ketik Facebook.com, ngak keluar apa-apa yah?”
SPG : “Lah, di depan nya Mas sudah ngetik www belum Mas?”
CP : “Memangnya harus ya Mbak, sebenarnya www itu apa?”
SPG : “Eeeehhmmmm… Apa yah? Pokoknya kalo mau masuk ke website memang harus ketik www itu Mas, kode permisi gitu lhooh. kayak nya kalau ngak salah singkatan dari Wassalammualaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh…”
130) Asuransi
HP Bejo berbunyi, terdengar suara merdu mengenalkan diri dari Asuransi.
Sales : Selamat pagi pak, boleh ganggu sebentar pak.
Bejo : Ada apa ?
Sales : Bapak pergi kerja naik mobil ?
Bejo : Iya jelas.
Sales : Bapak nyetir sendiri ?
Bejo : Tidak, sopir yang bawa.
Sales : Apakah sudah masuk asurasi mobilnya ?
Bejo : Saya kira sudah, coba nanti saya tanya.
Sales : Berapa nilai mobil bapak, dibawah 1M, atau 1M lebih ?
Bejo : Semestinya 1M lebih.
Sales : Mobil apa yg bapak pakai ?
Bejo : Transjakarta
Sales : ???(langsung menutup teleponnya)
![]() |
| CrownQQ | Agen Domino QQ | BandarQ | Domino99 Online Terbesar |
BACA JUGA :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar