“Jaga rumah baik-baik ya, Eric!” Teriak Ibu dari luar. Suaranya bersemangat, tentu saja – Ibu akan reunian dengan teman-teman lamanya.
Ah, teman. Kalau aku jadi Ibu, lebih baik aku membeli makanannya kemudian kubawa pulang. Setidaknya waktuku tidak terbuang untuk obrolan yang membosankan.
“Iya.” Aku berteriak jauh lebih keras dari Ibu, tapi tentu saja, tidak lebih keras dari suara mobil ibu yang sudah makin menjauh dari pendengaranku.
Aku pun bergegas ke kamar, menguncinya, kemudian menyalakan AC. Tak lupa ku nyalakan jam wekerku tepat pada jam setengah enam – karena tanpa alarm, aku bisa lupa waktu.
Setelah setengah jam bermain, jam weker pun berbunyi. Sungguh, sangat menjengkelkan sebenarnya. Tapi aku sudah berjanji kepada Ibu untuk menjadi lebih disiplin. Aku tak mau diskors sekolah lagi.
Ada sesuatu yang membuatku melirik ke luar rumah melalui jendela yang terbuka ini. Kusibak tirainya yang melambai-lambai terkena angin dan kubuka jendelanya lebih lebar lagi.
“Dia lagi.” Gumamku. Bocah perempuan berumur sekitar tiga belas tahun itu masih saja duduk di ayunan yang ada di teras rumah kosong itu.
Tubuhnya terus berayun-ayun diikuti dengan rambut panjangnya yang berkibar-kibar pelan diterpa angin. Apa perasaanku saja atau tatapannya benar-benar kosong? Tatapannya hanya mengarah ke tanah, beberapa meter dari tempatnya duduk itu.
“Ah, masa bodohlah. Aku harus segera mandi, kemudian belajar untuk ulanganku besok.”
Aku menutup jendela serta tirai kamarku, dan secara samar aku melihat seulas senyum tipis dari wajahnya ketika ia melihat kucing yang melintas di hadapannya. Anak yang aneh.
Kuambil handukku kemudian aku membuka pintu.
Lebih baik aku mandi kemudian makan malam. Setelah itu, aku dapat belajar dengan nyaman untuk ulangan Biologi dan Kimia besok.
Pikiran dan tubuhku terasa jauh lebih baik setelah mandi.
Tak terasa sudah jam enam ketika aku baru saja berpakaian dan bersiap untuk makan.
Hanya dua potong pizza bertopping keju yang tersisa. Ibu pasti memakan sepotong pizza sebelum pergi tadi.
Entah kenapa aku tertarik untuk mengecek anak aneh itu dari jendela.
Dia sudah tidak ada disana. Ya, tentu saja. Tidak mungkin kau duduk seharian di ayunan. Dia pasti pulang ke rumahnya untuk makan malam.
Dan setidaknya dia tidak hanya makan pizza sepertiku, melainkan mendapatkan jamuan makan malam yang lezat.
Aku berjalan kembali ke meja makan dengan pizza yang sudah kumakan setengahnya.
Teleponku berbunyi. Pasti dari Ibu.
“Halo? Ibu?” Aku memulai percakapan.
“…”
“Ibu?”
Tidak biasanya Ibu diam begini. Dia selalu yang pertama menyapaku di telepon.
“Halo? Ibu? Ada apa sebenarnya? Beritahu aku.”
Terdengar jeda selama beberapa detik sebelum Ibu berbicara.
“Eric. Apa kau sudah tahu bahwa ada pembunuhan di perumahan kita? Korbannya bocah perempuan berumur sekitar belasan tahun. Dia dibunuh dini hari tadi di dalam kamarnya. Pembunuhnya masih dicari polisi, sementara satu-satunya hal yang baru diketahui terkait pembunuhan ini adalah matinya listrik di rumah korban.”
Aku mengerjap – suara Ibu yang pelan – berbisik itu tidak bisa mengimbangi rasa takutku.
“Aku akan berhati-hati.” Jawabku singkat. Aku mulai gemetaran.
Aku tidak percaya hantu, tapi tampaknya yang kulihat tadi siang memang bukan sesuatu yang nyata.
Aku berjalan ke dapur untuk mengambil minum dengan langkah yang paling pelan yang pernah kulakukan. Kuambil gelasku yang masih berisi air tadi.
“Sial.”
“Kenapa Eric?”
“Lampu di rumah mati.”
“Apakah hanya lampu rumah kita saja?”
“Ya. Rumah yang lain masih menyala. I-Ibu, pembunuhnya masih berkeliaran disini!” Kataku gemetaran sambil menatap keluar jendela – menatap ke jalanan yang sepi.
“Eric, kau harus berhati-hati. Lebih baik jangan keluar rumah, dan jangan lupa kunci semua pintu dan jendela. Ibu akan menghubungi penjaga keamanan.” Kata Ibu dengan suara yang mulai panik.
Aku menelan ludah, “Baiklah.”
“Maaf tapi Ibu akan terlambat pulang. Jalanan sangat macet. Kau tidur saja, dua atau tiga jam lagi Ibu akan pulang. Selamat malam, Eric.”
Ibu menutup teleponnya.
Bagaimana aku bisa tidur dalam keadaan begini? Yang benar saja.
Aku pun berjalan dengan perlahan ke kamar sembari menggenggam pemukul bisbol yang kuambil dari ruang tamu. Setetes keringatku turun perlahan dari pelipisku.
Bakk!
Kututup pintu kamarku dengan cepat dan aku langsung bersembunyi di balik pintu dengan pemukul bisbol yang siap kulayangkan jika ada orang yang masuk.
Sial, rasanya ngantuk sekali. Kelopak mataku semakin tidak tahan untuk segera menutup.
Tidak, Aku tidak mau tidur dalam keadaan seperti ini!
Duk.. duk.. duk.. duk.. duk.. duk..
Mataku terbelalak.
Itu suara langkah kaki..tidak, maksudku suara seseorang yang berlari diikuti oleh suara anak kecil yang cekikikan.
Tidak – tidak mungkin… apakah anak yang kulihat tadi itu pembunuhnya? Berarti yang dimaksud Ibu adalah anak yang lain – korbannya.
“Sial.. sial.. sial.. sial” gumamku pelan.
Aku langsung mengunci pintu kamar dan duduk di tempat tidur, kemudian merogoh saku celanaku. Aku akan menghubungi Ibu.
Titt… Tiiit… Tiit…
“H-Halo, Eric? Bagaimana keadaanmu, Nak? Penjaga keamanannya sudah bersamamu, kan?”
Penjaga itu belum datang.
“Eric?”
“H-Halo, Eric?”
Pada akhirnya, aku hanya mendengar secara samar suara Ibu yang memanggilku.
Aku tertidur.
—
Aku membuka mata perlahan dan meraih jam weker yang ada di meja dengan malas.
Sudah jam enam, walaupun terasa masih gelap.
Aku tersenyum. Aku selamat dari kejadian malam tadi dan anak perempuan gila – psikopat itu. Ya, walaupun aku sama sekali tidak menyangkanya. Ah, tapi lega rasanya. Aku akan meminta Ibu untuk pindah dari sini, secepat mungkin. Tapi rasanya ibu akan sulit percaya dengan kejadian kemarin.
Kuambil handphone ku dari atas meja.
Mataku terbelalak.
Ini masih jam tujuh malam.
Jantungku kembali berdegup dengan semakin cepat.
Ibu belum pulang, dan ia masih ada disini.
Tubuhku bersentuhan dengan sesuatu.
Awalnya aku mengira ini bantal, namun aku menyadari pintu kamarku yang sedikit terbuka.
Dan suara cekikikan itu terdengar lagi, tepat di telingaku.
END
![]() |
| CrownQQ | Agen Domino QQ | BandarQ | Domino99 Online Terbesar |
BACA JUGA :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar