Rabu, 03 Agustus 2016

Jalan Cengkeweng ( Horor Lucu )


Pada suatu malam di saat matahari belum terbenam, seorang pria paruh baya bertanya-tanya kepada tahi lembu yang bergoyang. Ia heran, kenapa lembu yang makannya rumput yang warnanya hijau, kotorannya dapat berubah warna menjadi hitam. Ia mendengus kesal karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari si tahi. Lalu, ia pun pergi meninggalkan jalan tempat teronggoknya si tahi itu.

“Hei, kau!”
Tahi itu mulai berbicara. Tapi si pria tetap bersikap cuek ibarat mantan yang tersakiti. Kini giliran si tahi yang kesal, karena tak tahan dicueki, dengan izin penulis, ia pun berubah menjadi sesosok gadis cantik nan anggun. Ia pun segera memanggil si pria dengan suara merdu aduhainya.
“Mas Joko…”
Pria itu menoleh walau jarak mereka kini sudah sepuluh kilometer jauhnya.
“Joko ndasmu! Namaku tuh Alah!”
“Jadinya Mas Alah dong?”
“Iya dong! Eh, kamu tahi tadi kan? Kamu siluman ya?”
“Enggak, aku dewi tahi, namaku Ishala Beraspadi…”
Karena telah jatuh cinta pada pandangan pertama, Mas Alah pun langsung berlari memeluk Ishala. Tapi tiba-tiba…
“Ishala!!!”

BRAK!
Ishala terkapar bersimbah susu lantaran ditabrak oleh Kang Guru, penjual susu keledai Arab keliling.
“Lah, neng ini kok lebaynya kelewatan banget. Ditabrak sepeda bisa jadi mati. Darahnya susu lagi…” Tukas Kang Guru.
“Dasar pembunuh! Kukutuk kau jadi…”
BRAK!
“Eh, sorry, mas. Aku nggak sengaja. Rem sepedaku blong.”
Mas Alah pun mati juga. Semenjak kejadian tersebut, jalan tersebut jadi angker. Konon, Mas Alah dan Ishala adalah penungging, eh, penunggu di jalan itu. Mereka selalu mengganggu para pasangan yang sedang pacaran di jalan itu.



Hari ini hari minggu, besok senin, besoknya lagi hari selasa, dan hari minggu sekali lagi, Henpon berulang tahun. Pacarnya yang berbehel berniat memberi surperais kepadanya pada saat ultahnya nanti.
“Aku nanti mau kasih kamu surperais. Aku akan tutup mata kamu, terus saat kamu buka, kamu ada di Jalan Cengkeweng, jalan yang belum pernah kamu lewati. Terus aku bakal kasih kamu kado yang isinya boneka Sponsbob, karena kamu suka sama Sekuitwet…”
Henpon memasang wajah idiot. Surperaisnya dimana, batinnya. Karena kesal dengan pacarnya, ia pun menonton Dokter Oh Indonesia. Saat itu Dokter Oh sedang membahas perihal penyebab nafas bau. Dokter Oh menyarankan, lebih baik mingkem daripada pasangan kalian terganggu karena bau nafas kalian. Henpon pun mengangguk.

Tiba-tiba perut Henpon terasa mulas. Ia pun bergegas ke kamar mandi dan ‘mengeluarkan’ yang perlu dikeluarkan. Ketika selesai, ia berpikir: aku pasti terkena penyakit diary.
“Diare, bego!”
Muncul suara misterius dari dalam kloset. Itu suara wanita. Ia tak mengira Nyi Blorong bakal bersemayam disitu.
“Siapa kau?”
“Aku Ishala!” Teriak suara itu.
“Oh, kau pasti penyanyi yang cantik itu, kan? Yang judul lagunya ‘Tetap Dalam Dompet’ kan?”
“Kau benar!”
Henpon langsung berlagak sombong.
“Iya, kau benar-benar bego! Aku bukan penyanyi! Tapi dewi tahi sekaligus penunggu Jalan Cengkeweng!”
“Loh, kan aku tinggalnya di Jalan Panggaron, kenapa kau bisa disini?”
“Hahaha! Panggaron? Coba kau pergi ke ujung jalan, lalu lihat pamplet jalannya…”
Karena merasa dipermainkan oleh hantu tahi, ia pun segera melaju ke ujung jalan dengan motor khayalannya.

“Ha? Aneh. Ini pasti ulah si hantu tahi tadi!” Gumamnya saat melihat pamplet jalan tersebut telah ditipex/distipo dan tulisan “Jalan Cengkeweng” nya ditulis pakai pena.

“Bagaimana? Apakah aku salah?”
“Hei, gila! Kenapa kau sudah berbicara? Aku belum sampai rumah!” Teriak Henpon dari kejauhan.
“Oh, maaf. Kukira kau sudah sampai…”
Entah apa yang terjadi, mendadak motor khayalan Henpon mogok. Terpaksa ia mendorongnya ke rumah karena disini tak ada bengkel motor khayalan.

“Aku lelah!” Teriak Henpon sembari bersandar di dinding kamar mandi.
“Siapa?”
“Aku!”
“Yang nanya!” Jawab Ishala dengan terkekeh-kekeh.
Karena merasa dipermainkan, Henpon pun menyiram klosetnya. Dengan harapan Ishala pergi dari klosetnya.
“Berani-beraninya kau!”
Terdengar suara parau dari arah ruang tamu. Henpon tak gentar, malah ia menganggap itu adalah trik si hantu tahi untuk menakutinya.
“Aku adalah Mas Alah yang akan membawamu pada mimpi buruk!”
Karena merasa sangat tidak takut sama sekali, Henpon pun mengupil dan memelintir “hasil tambang”nya dengan cekatan. Lalu dengan kekuatan gaibnya, kekasih hantu tahi itu pun menyeret Henpon keluar rumah sampai ia benar-benar tersungkur di Jalan Cengkeweng yang sebenarnya.

“Dimana aku?”
“Selamat datang di Jalan Cengkeweng! Pergilah jika kau ingin pergi dari sini!”
Henpon mulai ketakutan. Ia melihat ada sepasang kekasih yang sedang berpacaran di bawah pohon kentang. Tanpa aba-aba, ia langsung berlari ke arah mereka untuk meminta pertolongan. Alangkah malangnya nasib Henpon, ia malah dicuekin.
“Bodoh. Dia tak tahu kalau sudah berada di alam gaib…” Bisik Mas Alah kepada Henpon.
“Loh, kenapa kau membisikkannya padaku?”
“Oh, maaf. Seharusnya kepada Ishala…”
Dasar hantu tahi bodoh, batin Henpon. Kini ia telah terjebak dalam dunia gaib dewa dewi tahi, Mas Alah dan Ishala. Henpon menjambak rambutnya dengan kuat lantaran stres. Alhasil, botaknya pun kelihatan.
“Bodohnya aku. Aku lupa kalau ini hanya wig…” Gumamnya.
Mas Alah dan Ishala pun terbahak-bahak melihat kepala plontos Henpon.



Sudah tiga bulan Henpon hamil duluan. Eh, salah. Maksudnya, Henpon telah tertidur selama tiga bulan di bawah naungan pohon stroberi. Ia layak dijuluki “Gembel Cengkeweng”. Tubuhnya bau, belek matanya tak terkira, bulu keteknya sudah merambat ke tanaman-tanaman sekitarnya. Ia sudah tak peduli dengan penampilannya lagi. Ia di dunia gaib, manusia mana yang bisa melihatnya? Kini, ia rindu pacarnya. Nama pacarnya siapa ya? Oh ya, kita sebut saja Peniti. Sebenarnya pengarang ingin memberinya nama Centini, tapi itu terlalu seksi, dan juga terlalu “Persik”.

Henpon tergelak. Ia segera bangkit dari tidurnya. Baru sadar ternyata ia mengantungi ponselnya. Namun sayang, tak ada sinyal. Ia mulai resah. Ingin ia menjerit sekuat tenaga. Lalu, datanglah pasangan dewa dewi tahi kita.
“Hai, manusia!” Sapa Mas Alah.
“Engkau bisa keluar dari sini jika kau bisa mencari tiga pasangan tumbal untuk kami!” Timpal Ishala.
“Mau kalian makan ya? Tidak! No cannibal allowed!”
“Tidak ah. Kami hanya iseng. Habis kami bosan..” Tukas Ishala.
“Tuh, kan! Tak enak kan jadi dewa dewi tahi!”
“Iya, selepas ini kami akan keluar dan menjabat menjadi ‘dewa dewi upil’!” Teriak Mas Alah dengan bangga.
Henpon hanya bisa memasang wajah bego keheranan. Ia pun bergegas berdiri dan pergi untuk mencari tiga pasangan.

Setelah sampai di tempat yang tepat, ia menjumpai sepasang kekasih sedang saling menjuput cabai di gigi mereka masing-masing. Mereka duduk berdua saling berhadapan di bawah sinar rembulan yang sedang gerhana. Sungguh romantis.
Namun, Henpon baru ingat, ia tak tahu bagaimana cara menangkap mereka agar dapat dibawa ke hadapan dewa dewi tahi. Ia pun mengambil ponselnya dan membuka Gugel. Diketiknya di kolom pencarian dengan kalimat “Cara menangkap manusia bagi makhluk gaib dengan mudah”. Ia ketik embel-embel “dengan mudah”, sebab jika tidak, bisa-bisa ia tak bisa. Anehnya, walau tak ada sinyal, tapi ia bisa mengakses internet. Bahkan kualitas jaringannya adalah “forji”.

“Nah, ketemu!” Batin Henpon.
Ia langsung membaca mantera yang ia dapat di suatu blog, dan alhasil berhasil! Sepasang kekasih tadi langsung ketakutan. Ternyata mereka dapat melihat Henpon.
“Tolong! Kami tak punya uang sepeserpun, mas! Maafkan kami!” Teriak mereka.
“Hei, aku bukan pengemis! Aku adalah penunggu di jalan Cengkeweng ini!”
“Oh begitu. Ada perlu apa?” Tanya mereka datar.
“Aku ingin menjadikan kalian tumbal untuk para…”
“…sudah sudah. Ayo cepat! Bawa kami! Bilang dari tadi, kek.” Jawab mereka ketus.
Henpon melongo heran. Kenapa mereka mau. Hah, dasar pasangan aneh.

Target selanjutnya.
Henpon mendapati sepasang kekasih yang sedang bercumbu. Ya, cumbu kompor. Mereka sedang memperbaiki cumbu kompor mereka. Maklumlah, mereka penjual nasgor keliling. Di gerobak mereka tertera slogan yang menarik: “Antar lintas, antar provinsi, antar piring sendiri kemari!”. Sebenarnya Henpon tak ingin mengganggu mereka, tapi karena tuntutan tugas, terpaksa ia membaca mantera itu lagi untuk menampakkan diri.

“Sudahlah, mas. Tolong jangan ganggu kami dulu. Kami tahu mas itu hantu. Tapi kami lagi sibuk. Nasgor kami belum ada keluar sepiring pun…”
Henpon pun garuk-garuk pantat mendengar penuturan si pria.
“Ya itu salah kalian! Jualan kok di jalan angker seperti ini!”
“Bagaimana kalau mas beli sampai habis nasgor kami, agar kami mau jadi tumbal…”
“Loh? Kok kalian tau akan, ah sudahlah, berapa semuanya?”
Setelah bernegosiasi dan tawar menawar harga, akhirnya mereka berhasil sampai pada kata sepakat. Pasangan itu pun menjadi tumbal dengan perasaan bahagia dunia dan akhirat lantaran dagangannya habis untuk pertama kalinya dalam seumur hidup. Henpon memang pahlawan.

Setelah berkeliling mencari yang pacaran, Henpon menjumpai hal yang tak terduga. Ia mendapati Peniti, sang kekasih, duduk berdua bersama seorang lelaki lain yang tak ia kenal. Entahlah, ini seperti peribahasa: “Pucuk dipetik, teh harum pun tiba”. Eh salah deng. Yang benar adalah: “Air hujan dibalas air ludah”. Betapa hancurnya hati Henpon melihat semua itu. Bahkan ia serasa ingin meledakkan diri sendiri.

“Patasya!” Teriak Henpon.
Loh, ternyata nama pacarnya itu Patasya, bukan Peniti. Tidak mirip sama sekali dengan nama tokoh di suatu drama India. Tapi anehnya, kenapa pengarang bisa tidak tahu menahu soal nama tokohnya?
“Sayang, malam ini kamu mau apa?” Tanya pria yang bersanding dengan si Patasya.
“Aku ingin aku dapat melupakan segala hal tentang Henpon, dan terjatuh ke dalam pelukanmu…” Jawab Patasya dengan mesra.
Kini Henpon tahu betul siapa sebenarnya sosok wanita yang selalu ia puja-puja selama ini. Dengan langkah tegap sembari mulutnya mengomat-kamitkan mantera, Henpon bersiap-siap “melumat” mereka.



Keesokan paginya, saat membuka mata, Mas Alah dikagetkan dengan kehadiran sosok Henpon di kamarnya. Tentu saja ia malu. Sebagai dewa tahi, ia tidur tidak memakai baju dan istrinya, Ishala, juga sedang memakai daster. Henpon berdiri dengan gagah dengan tiga pasang manusia terduduk lemah dengan tatapan kosong di sebelahnya. Mas Alah merasa Henpon berbakat menjadi host “Masih Dunia Binatang”. Bahkan Ishala memberi stending eplaus untuk Henpon.
“Kalian pergilah menjadi dewa dewi upil. Biarkan aku yang mengurus jalan Cengkeweng ini dan menjadi Dewa Tahi. Terkadang, menjadi tahi yang bau lebih baik daripada tahu yang isinya tahi…” Ujar Henpon dengan mata menatap tahi yang berserakan di sekitar ranjang Mas Alah. Sudah, begitu sajalah.

CrownQQ | Agen Domino QQ | BandarQ | Domino99 Online Terbesar

BACA JUGA :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar