Senin, 15 Agustus 2016

Kumpulan Cerita Lucu Part #33 ( 321-330 Cerita )


321) AC
Seorang karyawan mendapatkan fasilitas kerja yang hebat sekali. Dia memiliki sebuah ruang dengan AC, telepon, televisi, internet, dan tentu saja 1 set PC yang canggih.

Suatu ketika dia mengetik sebuah laporan. Tiba-tiba saja bosnya masuk dengan marah-marah.

Bos: “Hei! Kamu menulis dengan WordStar DOS ya? Dasar Bodoh! Sekarang itu sudah tahun 2016!! Harusnya kamu bisa menulis dengan Microsoft Word!!”

Karyawan: “Habis ini ruang ber-AC sih!”

Bos: “Apa hubungannya dengan hal itu? Jangan cari-cari alasan!!”

Karyawan: “Bos lihat saja sendiri ke AC itu!”

Bos itu lalu melihat ke AC dan ada tulisan “…AIR CONDITIONER ROOM, DO NOT OPEN WINDOWS!!”

Karyawan: “Kalau buka Windows saja tidak boleh bagaimana mau buka Microsoft Word?”

Bos: ???%%%##!!!


322) Dilarang Membalas
Pada suatu hari keluarga seorang Pendeta sedang berkendara untuk menghadiri suatu ibadah Natal. Maka dengan penuh sukacita Pak Pendeta bersama keluarganya menuju tempat yang tertera dalam undangan.

Sesampainya di tempat yang dituju ternyata halaman parkir telah dipenuhi oleh para undangan lain. Nampaknya ibadah ini cukup menarik minat banyak orang. Setelah berputar-putar, beruntung ternyata terdapat satu tempat parkir diantara mobil-mobil yang penuh sesak dan di sana sudah menunggu si tukang parkir.

Melihat mobil Pak Pendeta, dengan gesit tukang parkir memberikan tanda dan Pak Pendeta menghampirinya.

Setelah mengarahkan kendaraan ke tempat yang tersedia si tukang parkir dengan aba-abanya, “terus … terus… kiri … kiri ..”

Dengan dengan gesit Pak Pendeta mengikutinya. Tukang parkir terus mengarahkan, “balas … balas … balas….”

Dan tiba-tiba terdengar bunyi “DUK”. Ternyata bemper mobil Pak Pendeta menyeruduk mobil lain. Dengan agak marah si tukang parkir menegor, “Bagaimana Bapak ini … kan sudah saya arahkan balas … balas … malah terus saja.”

Dengan tenang Pak Pendeta balas menjawab, “Dik … saya ini Pendeta, harus mengasihi setiap orang dan dilarang membalas.”


323) Umur Kerangka Ikan Paus
Satu saat di Museum Zoology, Bogor, para turis sedang mengagumi kerangka Ikan Paus Biru (Blue Whale). Salah satu dari mereka bertanya kepada pemandu,

“Berapa sih umur kerangka Ikan Paus Ini?”

Pemandu menjawab, “Seribu empat tahun dan enam bulan.”

“Wow hebat, angka yang sangat rinci,” jawab si turis, “Bagaimana anda bisa tahu
umur yang sangat persis seperti itu?”

Pemandu menjawab, “Ah gampang saja. Umur tulang belulang itu sendiri seribu tahun saat saya mulai bekerja disini, dan sampai sekarang saya sudah bekerja di sini selama empat setengah tahun.”


324) Ini Yang Kelima
Seorang kakek terlihat sedang memancing di pinggir got. Bermacam-macam tanggapan orang yang melihatnya.

Ada yang bilang bodoh, gila dan aneh, dan sebagainya. Agus kebetulan lewat, penasaran melihat ulah kakek ini, bertanyalah dia,

Agus: “Kek, ngapain mancing di got?”
Kakek: “Untuk cari makan Nak.”

Agus merasa kasihan dan menawari Sang Kakek untuk makan di Warteg dekat tempat si kakek memancing. Sembari makan Agus yang masih penasaran bentanya kembali,

Agus: “Kek, mancing digot apa dapat ikan?”
Kakek: “Pasti dapat!”

Agus: “Masa sih Kek? Udah berapa banyak dapat ikannya Kek?”
Kakek: “Kamu sekarang yang kelima ..”

Agus: ” ….!!!???@@”


325) Ada Kembaliannya
Cak Huda yang baru saja menikah dengan Yuk Marni, lemah lunglai berada di pos hansip seperti orang bingung. Beberapa saat kemudian Cak Durasim datang.

“Hud, kamu itu penganten baru kok bukannya seger, malah lemes emangnya kenapa kamu Hud?,” Tanya Cak Durasim.

“Iya Cak, aku mikirin istriku lho!,” kata Cak Huda.

“Kenapa istri kamu, kalau aku lihat istri kamu sehat-sehat gitu kok,” kata Cak Durasim.

“Gini lho Cak, aku ini biasa ke pelacuran, lha pas kemarin aku ‘Making Love’ malam pertama, aku ngeluarin uang 50-an. Pikirku perempuan yang bodinya kayak gini ini paling banter taripnya 50 ribu. Aku bener-bener lupa kalau itu istriku sendiri,” kata Cak Huda.

“Kamu itu juga sembarangan aja. Tapi ya udah tidak usah dipikir lagi, paling-paling juga istri kamu tersinggung sebentar terus kangen ama kamu lagi,” kata Cak Durasim.

“Bukan hanya itu masalahnya, Cak…,” kata Cak Huda.

“Lha apa masalahnya lagi?,” kata Cak Durasim menjadi bingung.

“Pada saat aku berikan 50 ribu, mendadak aku diberi kembalian 25 ribu.”


326) Istri Yang Lebih Baik
Pardi, seorang pemuda mengaku insyaf dan tidak lagi macam-macam, setelah mendapat banyak ‘bantuan’ dari pacarnya.

“Jadi kamu berhenti minum-minum karena permintaan pacarmu?,” tanya seorang pria saat berbincang-bincang di gardu.

“Ya,” jawab Pardi

“Dan kamu juga berhenti merokok karena permintaan pacarmu?,” tanyanya lagi.

“Betul,” jawab Pardi.

“Dan sekarang kamu berhenti ke disco, karaoke dan kebut-kebutan juga karena pacarmu?,” tanya pria itu heran.

“Betul sekali,” jawab Pardi mengiyakan.

“Tapi mengapa kamu sekarang malah memutuskan hubungan dengan dia dan tidak menikahinya?,” tanya pria itu semakin heran.

“Nah… setelah aku sekarang jadi orang baik, baru aku sadar bahwa aku bisa mendapat istri yang lebih baik dari dia.”


327) Mie Goreng
Seorang pakar kesehatan sedang meneliti kebiasaan makan pada anak-anak di sebuah Sekolah Dasar. Dia sedang bertanya kepada Cyntia, “Setiap pagi Cyntia sarapan apa saja?”. “Mie goreng,” jawab Cyntia

“Lalu kalau makan siangnya apa?”
“Mie goreng,” jawab Cyntia lagi dengan polosnya.

“Ohhh …. kalau begitu makan malamnya apa donk …?” tanya si pakar kesehatan ini dengan senyum yang dipaksakan.

“Mie goreng,” jawab Cyntia lagi.

Jawaban Cyntia yang terakhir itu membuat si pakar kesehatan ini kehilangan rasa sabarnya dan bertanya, “Apakah kamu hanya menghabiskan harimu dengan makan mie goreng? Apakah tidak ada hal-hal lain selain makan mie goreng?”

“Tentu ada donk!” jawab Cyntia tetap dengan wajah tanpa dosa.

“Apa itu?” tanya si pakar kesehatan.
“Muntah!”


328) Anak Buah Tanggap
Seorang manajer bertanya-tanya ketika melihat salah satu karyawannya yang sedang duduk bengong di balik mejanya. Ia tampak stres berat.

Si manajer kemudian memberi saran, “Tirulah aku.

Selama dua minggu berturut-turut aku pulang lebih awal dari biasanya, dan meminta istriku untuk memandikanku. Ini benar-benar membantu. Cobalah!”

Dua minggu kemudian si manajer melihat karyawannya itu bekerja dengan riang dan bersemangat. “Kayaknya saranku berhasil, nih. Bagaimana, Joko?,” tanya si manajer.

“Bener, bos!” jawab Joko, “Sungguh luar biasa! Dan ngomong-ngomong, kamar mandi Bapak keren banget!”


329) Makelar Rumah
Seorang makelar rumah menawarkan dagangannya pada seorang pembeli, “Jujur melayani pembeli adalah tujuan perusahaan kami, kami akan memperkenalkan kelebihan dan kekurangan dari seluruh rumah yang kami tawarkan”.

“Lalu kekurangan rumah yang anda tawarkan itu apa?,” tanya seorang pembeli.

“Oh, terutama tiga kilometer utara rumah, ada tempat perternakan sapi, sebelah baratnya ada pabrik pengolah limbah, timurnya ada sebuah pabrik kimia, dan selatannya ada sebuah pabrik caos,” jelas sang makelar panjang lebar.

“Lalu, apakah rumah itu masih punya kelebihan?,” tanya pembeli.

“Maka dari itu, kapan saja anda dapat memastikan mata angin mana yang sedang bertiup hari ini”


330) Titip Anak
Bu Endah, seorang pembantu rumah tangga sedang kecapekan dan depresi karena mengurus empat orang anak majikannya yang masih kecil-kecil. Tiba-tiba pintu rumah diketuk, dan ternyata ada Ibu Amal, seorang aktivis gereja. Dia datang membawa map.

“Sore Bu, maaf, begini nih, gereja kami kan sedang berencana membangun sebuah tempat penampungan anak-anak. Nah, barangkali ibu mau membantu menyumbangkan sesuatu untuk rumah penampungan tersebut?,” ungkap bu Amal.

“Oh … ada!,” kata Bu Endah dengan pandangan kesal, “Saya mau menyumbang dua anak laki-laki, satu balita dan satu bayi, atau paling tidak salah satunya.”

CrownQQ | Agen Domino QQ | BandarQ | Domino99 Online Terbesar

BACA JUGA :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar